Jumat, 11 Juli 2014

Tanggung Jawab dan Ketenaran

Pagi ini setelah jogging di seputaran renon yang sepi dibanding biasanya, saya kembali ke kamar dan 'browsing' channel TV. Sebagai orang yang tidak loyal pada satu station TV atau acara TV saya akan berhenti pada acara yang membuat saya bertahan beberapa detik dan tentunya minim iklan. Apa yang menarik pagi ini? Sebuah cerita sinetron India tentang para Dewa, saya menangkap ada percakapan antara Dewa Siwa dan Rajapati yang disebut sebagai putra Brahma. 


Kata-kata yang menghentikan jari-jari tangan saya menekan tombol anak panah pada bagian channel adalah begini, Dewa Siwa berkata-kata 'Membuat bumi menjadi layak untuk di tempati dengan membuat peraturan adalah tugas dan tanggung jawab Rajapati, dan engkau Rajapati sudah mendapatkan ketenaran atas itu. Namun, lihatlah sekitarmu, Matahari yang menyinari, udara yang engkau hirup, Hujan yang menyirami bumi, apakah mereka juga menyatakannya kepada dunia. Aku tidak memberi dan Aku tidak mengambil apapun dari dunia ini. Namun, jika ada tiran yang mengatasnamakan dharma, Aku pasti akan menghancurkannya'. What a strong and at the same time wise statement.

pict courtessy of pangeran229.wordpress.com
Ketidaksetiaan

Dua hari yang lalu saya mengikuti misa sore di satu gereja Katolik besar di kota Denpasar. Dan keputusan saya untuk ikut misa adalah keputusan yang sangat baik untuk saya. Kotbah adalah satu yang selalu menarik buat saya. Jadi kalau orang lain mungkin menanti saat ini untuk mengistirahatkan panca indera alias tidur, saya malah 'bangun' pada saat homili atau kotbah. Kenapa? Karena secara kurang ajar saya selalu beradu ide dengan sang pengkotbah. Saya akan memberikan nilai 1 kepada saya dan 0 kepada pengkotbah jika menurut saya (ego) ide saya lebih menarik dan tepat, mudah di cerna dibanding ide sang pengkotbah.




Sore itu saya terpaksa harus memberikan score 1 - 0 untuk sang pengkotbah. Saya kalah. Bacaan injil sore itu adalah mengenai cerita saat Tuhan memilih para muridnya dan mengutus mereka untuk bekerja untuk Tuhan. Apa yang dilepaskan di bumi akan di lepas di surga dan apa yang diikat di bumi akan di ikat di surga. Kesetiaan menurut versi Tuhan. Ide yang membuat saya tersungkur kalah adalah sebuah ide dari Romo Kris, nama sang pengkotbah mengenai ketidaksetiaan. Romo Kris menyampaikan sore itu bahwa ketidaksetiaan berasal dari ketidaksabaran pada proses sehingga meninggalkan masalah mencari tempat, waktu, suasana baru. Sementara saya, I have idea about loyalty but it is just an ordinary idea about doing fairness, no cheating etc etc. Basicly, I have no idea! Kalah Telak.

Hingga beberapa hari saya masih memikirkan idea ketidaksetiaan tersebut. Bahkan saya sempat membaginya kebeberapa sahabat dan orang yang saya temui. Beberapa dari mereka seperti tersengat listrik saat mendengarnya (seperti saya). Ini membuktikan bahwa ide Romo Kris adalah sebuah ide yang briliant mengandung pencerahan tingkat tinggi (baca : tingkat dewa).