Kamis, 22 Agustus 2019

Angin dan Moke Merah

Angin malam ini seperti kemarin berhebus keras. Derunya terdengar resah namun kadang  tertawa bahagia. Orang kampung bertanya akan ada peristiwa apa. Sejak ribuan tahun lalu sudah menjadi kepercayaan bahwa alam selalu memberikan tanda sebelum satu kejadian. Udara dingin juga kembali menyergap tulang rusuk, setelah beberapa hari kemarin pergi.
Seorang ibu paruh baya menarik sarung ikat ke atas hingga menutup kepalanya sambil mengumpat sang suami yang lebih memilih duduk mengitari meja sambil mengangkat seloki moke merah hingga mabuk ketimbang habiskan malam dan memeluknya sampai pagi. Dan hantu bergentayangan merasuki hati yang kosong, pikiran yang hampa, sementara para malaikat menyanyikan lagu pengantar tidur. Anginpun pergi bersama sepi mencari ruang hampa.

Selasa, 24 November 2015

Ketidaksetiaan

Dua hari lalu saya mengikuti misa sore di sebuah gereja terbesar di kota Denpasar. Kotbah selalu menarik perhatian saya karena saya sering membandingkan, jika saya yang ada di podium apa yang akan saya sampaikan. Biasanya saya memberikan score 1 kepada saya dan 0 kepada sang Pastor jika menurut saya ide saya dalam penyampaian lebih baik. Cukup kurang ajar jika didengar oleh orang yang tidak tepat :) Namun sore itu, saya terpaksa menyerah kalah, 0 untuk saya dan 1 untuk Romo Kris, nama sang Pastor. Dalam kotbahnya beliau menyebutkan satu statement yang langsung masuk akal sehat saya, merangsek ke alam semesta saya dan saya sangat menyetujui ide dari statement tersebut. Seperti apa ide yang disampaikan Romo Kris pada kotbahnya mengenai kesetiaan. Begini, katanya ketidaksetiaan itu dikarenakan ketidaksabaran seseorang pada proses sehingga orang tersebut meninggalkan proses itu dan menghindari masalah yang sedang dalam proses.

Hingga hari ini kata tersebut masih terngiang dan sempat beberapa kali saya sampaikan kepada sahabat dan orang yang saya temui. Beberapa orang yang saya sampaikan ide ini, seperti tersengat listrik tengangan rendah (seperti saya). Ini cukup buat saya membuktikan bahwa ide Romo Kris yang disampaikan pada misa harian di satu sore saat matahari meninggalkan siang hari dan sang malam menyapa di kesenyapan senja adalah sebuah ide yang sangat bagus dan layak untuk memenangkan score 1 untuk Romo Kris dan 0 untuk saya.

Jumat, 11 Juli 2014

Tanggung Jawab dan Ketenaran

Pagi ini setelah jogging di seputaran renon yang sepi dibanding biasanya, saya kembali ke kamar dan 'browsing' channel TV. Sebagai orang yang tidak loyal pada satu station TV atau acara TV saya akan berhenti pada acara yang membuat saya bertahan beberapa detik dan tentunya minim iklan. Apa yang menarik pagi ini? Sebuah cerita sinetron India tentang para Dewa, saya menangkap ada percakapan antara Dewa Siwa dan Rajapati yang disebut sebagai putra Brahma. 


Kata-kata yang menghentikan jari-jari tangan saya menekan tombol anak panah pada bagian channel adalah begini, Dewa Siwa berkata-kata 'Membuat bumi menjadi layak untuk di tempati dengan membuat peraturan adalah tugas dan tanggung jawab Rajapati, dan engkau Rajapati sudah mendapatkan ketenaran atas itu. Namun, lihatlah sekitarmu, Matahari yang menyinari, udara yang engkau hirup, Hujan yang menyirami bumi, apakah mereka juga menyatakannya kepada dunia. Aku tidak memberi dan Aku tidak mengambil apapun dari dunia ini. Namun, jika ada tiran yang mengatasnamakan dharma, Aku pasti akan menghancurkannya'. What a strong and at the same time wise statement.

pict courtessy of pangeran229.wordpress.com
Ketidaksetiaan

Dua hari yang lalu saya mengikuti misa sore di satu gereja Katolik besar di kota Denpasar. Dan keputusan saya untuk ikut misa adalah keputusan yang sangat baik untuk saya. Kotbah adalah satu yang selalu menarik buat saya. Jadi kalau orang lain mungkin menanti saat ini untuk mengistirahatkan panca indera alias tidur, saya malah 'bangun' pada saat homili atau kotbah. Kenapa? Karena secara kurang ajar saya selalu beradu ide dengan sang pengkotbah. Saya akan memberikan nilai 1 kepada saya dan 0 kepada pengkotbah jika menurut saya (ego) ide saya lebih menarik dan tepat, mudah di cerna dibanding ide sang pengkotbah.




Sore itu saya terpaksa harus memberikan score 1 - 0 untuk sang pengkotbah. Saya kalah. Bacaan injil sore itu adalah mengenai cerita saat Tuhan memilih para muridnya dan mengutus mereka untuk bekerja untuk Tuhan. Apa yang dilepaskan di bumi akan di lepas di surga dan apa yang diikat di bumi akan di ikat di surga. Kesetiaan menurut versi Tuhan. Ide yang membuat saya tersungkur kalah adalah sebuah ide dari Romo Kris, nama sang pengkotbah mengenai ketidaksetiaan. Romo Kris menyampaikan sore itu bahwa ketidaksetiaan berasal dari ketidaksabaran pada proses sehingga meninggalkan masalah mencari tempat, waktu, suasana baru. Sementara saya, I have idea about loyalty but it is just an ordinary idea about doing fairness, no cheating etc etc. Basicly, I have no idea! Kalah Telak.

Hingga beberapa hari saya masih memikirkan idea ketidaksetiaan tersebut. Bahkan saya sempat membaginya kebeberapa sahabat dan orang yang saya temui. Beberapa dari mereka seperti tersengat listrik saat mendengarnya (seperti saya). Ini membuktikan bahwa ide Romo Kris adalah sebuah ide yang briliant mengandung pencerahan tingkat tinggi (baca : tingkat dewa).


Senin, 18 November 2013

Cinta Chicken Burger

Ipung merogoh kantungnya, mencari beberapa lembar limapuluh ribuan. 'Sekedar memastikan',katanya dalam hati, "daripada malu didepan kasir". Disambut hangat oleh pelayan dibelakang konter 'take away' yang lumayan cantik, Ipung balas tersenyum.
 "Chicken Burger dong, double cheese ya," kata Ipung pasti,"minumnya Es Cincau."
Sontak si pelayan mikir, mau bicara tapi ragu-ragu "Maaf Mas, serius mau pesan es cincau?" tanyanya. "Iyalah Mbak, haus banget nih," jawab Ipung cepat.
 "Tapi, Mas..mmm...kami nggak jual es cincau, gimana kalau di ganti sama es jelly ajah. Lebih ganteng mas kalo makan burger pake jelly ketimbang es cincau," kata si mbak.
"Masak sih gitu? Hmmm...kalo bener. Oke deh, es jelly aja," kata Ipung antara percaya sama enggak.


Sambil duduk menunggu pesananannya datang, pikiran Ipung melayang pada kejadian semalam. Sahabatnya Daniel datang dengan wajah yang nggak karuan, sedikit lusuh banyak kusutnya.
"Kenapa lo Dan? Muka udeh kayak pepes oncom (baca : masih mending pepes oncom enak dimakan)."
"Pusing gue Punk, si Mia (istri Daniel) bilang perkawinan gue sama dia hambar. Emang dia kata Cap Cay apa, pake hambar segala."
"Trus..." kata Ipung penasaran
"Katanya gak seperti dulu, banyak warna, lebih gurih." Daniel tambah murung.
"Mungkin si Mia abis nonton Master Chef kali."
"Becanda lo Punk. Gue lagi sedih nih. Traktir Mie Tek Tek kek, Martabak kek, Apa kek...."
"Eh, bilangin sama si Mia, khan udeh gue bilang dari dulu, perasaan itu menipu, komitment lah yang jalan after marriage. Kalo pake komitment, rasa udeh gak ngaruh lagi. KFC, Mc D dari dulu ya begitu rasanya. Mereka komit, malah kalo rasa berubah bisa pada kabur pelanggannya. Bener gak?"
Daniel manggut-manggut, matanya sudah mulai menunjukkan cahaya - sedikit. Masih belum jelas betul apa dia mengerti maksud Ipung atau pura-pura ngerti.
"Nah, kalau si Mia bilang rasanya jadi hambar. Jangan-jangan elo berdua yang merubah rasanya..."

"Chicken Burger dan Es Jelly-nya, Mas" kata si pelayan membuyarkan bayangan Daniel tadi malam.
"Terima kasih ya, Mbak. Mau tanya boleh ?"
"Boleh Mas, asal gak tanya Pin BB aja." kata si Mbak.
"Ahhh si Mbak bisa aja mentang-mentang bening, pasti banyak yang minta no. BB-nya ya?"
Yang di tanya malah mesem mesem aja.
"Saya mau tanya aja, menurut mbak, rasa Chicken Burger ini sama atau nggak dengan waktu resto ini dibuka dulu?" tanya Ipung penasaran.
"Sama lah, Mas. Resepnya khan itu-itu aja. Pernah sih tempo hari si Bos pingin bikin Burger rasa Jengkol. Tapi gak terlalu laku, banyak yang bilang jengkol nggak enak di buat burger enaknya di buat semur."
" Oh gitu ya. Oke deh, terima kasih ya mbak. Ngomong - ngomong, knapa emang saya nggak boleh minta no BB situ. Mbak nggak suka sama muka saya ya?" tanya Ipung penasaran.
"eeehhh anu mas...eehhh saya gak punya BB." kata si mbak sambil ngeloyor pergi.
Ihhh, si mbak gak usah punya BB kali, Android lah, pikir Ipung sewot.

Masih menikmati Chicken Burger, hape Ipung bunyi minta diangkat.
"Halo.. Iya, Dan...What's up bro?"
Ternyata Daniel yang menghubungi.
"Pung, gue lagi mikirin apa yang lo omongin tadi malam."
Dalam hati Ipung ketawa, tuh bener khan ini anak nggak ngerti.
"Ternyata elo cerdas juga ya, Pung. Setelah gue pikir-pikir, memang gue dan Mia mengurangi resep standard perkawinan."
"Maksud lo..." Ipung sebenernya ngerti arah pembicaraannya tapi pingin tau aja bener gak otaknya si Daniel.
"Iya, Pung. Bini gue itu dulu setiap pagi selalu nyiapin teh panas, makanan untuk di bawa ke toko gue. Belakangan kagak pernah. Pas gue ngomong ke Mia, ternyata doi juga komplain, katanya gue sekarang jarang pijatin dia, traktir makan bakso kesukaan dia."
"Ohhh jadi maksud lo itu ngurangin resep," pinter juga ternyata sahabatnya itu, kata Ipung dalam hati.
"Iya Pung,"
"Ya udah, elo ternyata lebih cerdas dari yang gue bayangkan, Dan. Hahahahaha... sana cari resep aslinya, balik lagi masak yang itu biar gak kusut lagi muka lo." Diujung telephone terdengar suara ngakak puas sebelum terdengar bunyi nada telephone  berakhir

Burger di tangan Ipung sudah ludes dan es jelly juga sudah tinggal esnya aja.
Ipung berdiri dan bersiap meninggalkan resto.
Chicken burger yang enak, semoga kamu tidak merubah resep yang sudah kamu komitmenkan kepadaku ya, harap Ipung dalam hati sambil menuju ke mobilnya.


Selasa, 24 April 2012

Bahagiamu bahagiaku

Kenapa sih orang bahagia? Bagaimana dengan Anda, kapan terakhir Anda merasa bahagia? Saat ini, 10 menit yang lalu, kemarin, 3 (tiga) hari yang lalu, minggu lalu atau malah sudah lupa kapan perasaan bahagia itu menyerang Anda sehingga Anda merasa ada di puncak dunia.

John Maxwell mengatakan bahwa kebahagiaan adalah hak setiap pribadi dan sifatnya pun sangat personal. Siapapun tidak berhak merebut rasa bahagia dari seseorang, dari Anda. Rasa bahagia itu diciptakan bukan tercipta. Kebahagiaan Anda dan Saya se'halal'nya tidak di sebabkan oleh perbuatan orang lain atau kejadian tertentu. Rasa bahagia itu diciptakan secara sengaja oleh Anda untuk Anda sendiri, dari Saya untuk Saya sendiri.

Jadi jika Anda sudah lammmaaaaaaa sekali tidak merasakan sensasi rasa bahagia dan Anda ingin segera merasakannya, berbahagialah sekarang juga. Katakan dengan bersuara " Saya bahagia, saya bahagia, saya bahagia, saya bahagia, saya bahagia..." dan rasakan sensasi kebahagiaan itu menyelimuti seluruh tubuh dan pikiran Anda. Aura Andapun terlihat cerah. Saya sudah bisa melihatnya dari sini :) . Have a happy day!

Indonesia, 25 April 2012


Jumat, 06 April 2012

@IpungPacinko

Ipung membuka BB-nya. Ia ingin mengoptimalisasikan hand set yang belakangan ini menemaninya saat gak ada yang bisa dilakukan. Banyak pula kerjaan komunikasi yang diselesaikan lewat BB-nya. Social Media sebenarnya juga bukan hal baru buatnya. Hanya saja semuanya dilakukan lewat laptopnya instead of smart phone-nya. Malam ini Ipung sedang getol ingin segera memiliki akun twitter. Kenapa? Dimana-mana Ipung melihat @ini, @itu, @siini atau @siitu :). Di televisi, di koran, di billboard bahkan di plastik bungkus tissue toiletnya. So, jadilah malam ini akun twitter Ipung. Buat Anda yang mau jadi follower, tentu Ipung gak akan mengecewakan Anda. Ipung yakin, dengan hadirnya dia di dunia twitter. Ipung akan lebih sering share cerita ceritanya. "Saya akan up date di akun twitter saya, kalau ada share yang penting (baca:menggemaskan) untuk di bagikan,"kata Ipung sambil nyengir dan menunjukkan akun twitternya @IpungPacinko. Have a great day.

Variable untuk persamaan yang rumit

Banyak kejadian berlalu sejak Ipung meletakkan gagang teleponnya setahun yang lalu. Tidak terlalu banyak yang berubah. Si karyawan tidak jadi di pecat dengan berbagai pertimbangan. Mulai dari rasa kasihan hingga hal-hal yang menyangkut aspek legal. Keluhanpun masih terdengar dan terkadang terasa terlalu banyak buat seorang Ipung yang hampir jarang memiliki pikiran negative.
Beberapa hal sudah dilakukan agar terjadi perubahan, namun kata orang barat 'at the end of the day' itu soal tabiat dan menurut mentornya 'daripada mengharapkan orang berubah, sebaiknya kita dulu yang berubah'. Apakah Ipung mau melakukan beberapa perubahan? "Iyalah, saya sudah mencoba melakukan perubahan dalam pola tindakan dan pikiran saya. Bahkan beberapa kali saya mengikuti apa yang dia inginkan - walaupun itu mengkhianati postur dan sebenarnya memperparah si Karyawan". Terus? "Saya sudah memutuskan bahwa  negative thinking si Karyawan sudah tabiat yang walaupun sudah menerima perubahan yang saya rela lakukan, tidak bisa membuatnya lebih baik buat saya, buat perusahaan. Jadi, biarlah seperti ini. So, be it," lanjut Ipung.
Bagaimana menurut Anda? Ah, saya tahu. Pasti Anda bilang Ipung bodoh. Harusnya dipotong saja. Kalau sudah tahu membawa hal negative. By the way, tau nggak? Jangan bilang-bilang ya. Saya juga setuju sama Anda. Tapi, buat Anda yang tidak setuju. Hmmmm, saya juga ada di pihak Anda. Karena beda banget antara menjadi penonton dan menjadi pelaku. Jauh lebih mudah menjadi penonton ketimbang pelaku, pemain. Mulai dari komitmen hingga legal aspect adalah variabel yang bergerak untuk menghasilkan sebuah keputusan. Tidak bisa mengunci satu variable dan membiarkan yang lainnya bergerak liar. Di kehidupan perkawinan, kehidupan keluarga - setali tiga uang. Terlalu banyak variabel yang menjadi komponen persamaan kehidupan. So, complicated. Jadi, melalui blog ini, saya sangat berharap bagi kaum muda, belajar, jangan gegabah, dengarkan, pertimbangkan bahwa kehidupan perkawinan, kehidupan keluarga tidak sesederhana yang banyak kaum muda pikirkan.

Jumat, 26 Agustus 2011

Ipung dan Eko

Ipung meletakkan gagang telepon. "Gimana caranya bisa membuat orang ini berhenti mengeluh,"pikirnya sambil menghempaskan punggung ke sandaran kursi kerjanya. Adalah Eko rekan kerjanya yang sejak pertama kenalan lebih banyak memberikan kesan negative terhadap perusahaan ketimbang hal yang positif. Beberapa kali Ipung sudah mencoba mengalirkan 'energi positif' kepada Eko namun hasilnya bagaikan masuk kuping kiri keluar kuping kanan. Tangan Ipung meraih Blackberrynya dan mengirimkan pesan BB kepada atasannya mengenai up date kondisi perusahaan. Hari memang sudah semakin senja. Hampir semua rekan kerja sudah meninggalkan meja masing-masing. BBnya bergetar, tanda pesan balasan dari atasannya masuk. Pesannya berbunyi sangat simple namun tegas "Jika sudah tidak satu visi sebaiknya dipertimbangkan untuk di terminate". Ipung seperti tersengat listri, disatu sisi kaget namun ada kegembiraan sedikit disana karena solusi yang di tawarkan. Jempolnya menggeser layar ke atas dan ke bawah untuk membaca pesannya berulang-ulang lagi, sambil memikirkan langkah selanjutnya. 
Sebenarnya langkah ini adalah langkah terakhir dari sekian langkah yang harus dicoba, dilaksanakan untuk mencegahnya terjadi. Betul, visi yang sudah tidak sama bisa diterjemahkan sebagai tidak cocok, tidak ingin membangun impian bersama, ingin mencari tempat lain yang memiliki visi yang sama dan sejenisnya. Atasan Ipung sebagai seorang pengusaha mungkin sudah memiliki banyak pengalaman dimana tidak mungkin terjalin kerja sama yang baik dan saling menguntungkan jika dalam satu organisasi terjadi perbedaan visi sehingga komitmen tidak bisa lagi di jalankan bersama.
Bagaimana dengan sebuah keluarga, sebuah perkawinan ? Bagaimana jika sudah tidak terjadi ketidaksamaan visi antara suami, istri, anak-anak ? Bagimana jika komitmen tidak lagi bisa dijalankan bersama untuk alasan apapun? 
Sama seperti yang Ipung laksanakan langkah terbaik sebenarnya adalah kembali menyamakan visi. Apa yang hendak di capai oleh keluarga seperti pada awal sebuah keluarga di bangun. Dapatkan kesepakatan itu, perjuangkan. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana jika itu sudah dilakukan dan tidak pernah berhasil? Jawaban atas pertanyaan tersebut adalah juga berupa pertanyaan ; berapa lama dan seberapa keras hal itu sudah dicoba dan dijalankan? 
(to be continue)

Senin, 11 Juli 2011

Kasih Sepanjang Masa,Hanya Memberi Tak Harap Kembali

Saya sejenak memikirkan cerita Malin Kundang yang dikutuk ibunya. Alasan sang penyampai cerita adalah karena Malin Kundang sudah sangat keterlaluan dan tidak menganggapnya sebagai Ibu. Kemudian saya membandingkannya dengan cerita pada jaman Raja Salomo dimana seorang ibu yang merelakan anaknya agar tidak ‘dibelah’ menjadi dua bagian karena ada wanita lain yang mengakui sebagai ibu dari anak yang diperebutkan. Sementara si wanita lain itu setuju dengan ide sang hakim Agung raja Salomo (yang melakukan triknya dengan sangat baik) untuk ‘membelah’ si bayi menjadi dua bagian.
Kemudian saya membandingkannya lagi dengan lagu Kasih Ibu, kasih ibu kepada beta..tak terhingga sepanjang masa…hanya memberi tak harap kembali …bagai sang surya menyinari dunia.
Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada saudara-saudara dari ranah Minang, saya mulai bertanya apakah ibu dalam cerita Malin Kundang itu adalah ibu kandung Malin Kundang. Kenapa sebagai ibu kandung beliau tega mengeluarkan sumpah atas anaknya sendiri, darah dagingnya sendiri, buah kasihnya yang sepanjang masa, kasih yang diberikannya tanpa harap kembali. Walau kemudian sang ibu menyesal dengan kata-katanya sendiri setelah melihat kenyataan apa yang diucapkannya menjadi kenyataan.
Dalam hidup rumah tangga, pasangan kita tentu tidak sehebat ibu atau ayah yang dengan tulus menyayangi. Namun oleh sang waktu cinta yang membara diawal menurut scenario harusnya dirubah menjadi kasih yang tak lekang oleh waktu. Dan bentuk kasih itu akan mendekati kadar kasih dari seorang ibu atau bapak. Sehingga semua bentuk interaksi antara keduanya adalah atas dasar kasih. Emosi yang sangat manusiawi muncul dalam perjalanannya tidak menyebabkan salah seorang di antara pasangan itu sampai hati mengeluarkan sumpah serapah demi kehancuran pasangannya. Apalagi diungkapkan dihadapan pasangannya.
Ibu Malin Kundang mengalami pengkhianatan oleh putranya sendiri. Namun karena satu dan lain hal sumpah serapah keluar dari mulut sang ibu. Kalau boleh saya sarankan jangan jadikan ini sebagai justifikasi Anda untuk melakukannya kepada pasangan Anda. Baik Anda Suami maupun Istri. Buat calon pasangan, Anda harus meyakinkan diri bahwa Anda tidak akan melakukannya kepada pasangan Anda sekalipun Anda mendapatkan perlakuan yang buruk. Jika hidup Anda terancam lebih baik Anda pergi ketimbang bertahan namun Anda menyumpahi untuk kehancuran pasangan Anda. Karena itu tandanya Anda sudah tidak memiliki kasih lagi kepada pasangan Anda dan menginginkan kehancuran pasangan Anda. Terlepas dari apa yang dilakukan pasangan Anda, seburuk apakah itu. Lebih baik Anda mendoakannya tanpa berusaha merubah. Serahkan kepada Tuhan dan terus limpahkan pasangan Anda dengan kasih. Jika tidak terjadi perubahan, Anda berhak untuk mengambil kendali atas hidup Anda dan melakukan evaluasi terhadap komitment, visi dan misi yang ditetapkan pada awal perjalanan bersama pasangan. Evaluasi tindakan-tindakan Anda, introspeksi itu lebih baik dari pada menyerang pasangan Anda terus menerus. Anda berhak untuk hidup lebih baik, Anda berhak untuk mengambil bagian dalam visi dan misi yang baru , menciptakan dunia yang baru.

Sabtu, 12 Maret 2011

Saya selingkuh...

"Saya selingkuh karena saya memilih untuk selingkuh, bukan karena pasangan saya yang jahat, tidak menyenangkan, kurang cocok, membosankan dstnya. Dan jika saya tidak selingkuh, itupun karena saya memilih untuk tidak selingkuh, bukan karena pasangan saya baik hatinya, support, mencintai dan menyayangi saya."

Ipung tersenyum sendiri melihat status fb seorang temannya. "Jujur juga ini orang xixixi...tapi mungkin dia bener" kata Ipung dalam hati. So, its about me, not about someone else. Itu juga salahnya manusia karena dilahirkan sebagai makluk sosial yang butuh bergaul dan dari pergaulan muncul sentuhan, daya tarik baik terhadap sesama jenis maupun lawan jenis. Yang sesama jenis akan menjadi sahabat, yang lawan jenis mungkin menjadi sahabat atau lebih dari sekedar sahabat. Lalu apa hubungannya dengan family sebagai sebuah incorporation ?

Jawabannya adalah komitment. Komitment untuk menjaga cita-cita keluarga menghasilkan output yang sudah di rencanakan. Setiap pasangan harus menyadari pilihan yang terjadi bukan karena pasangan masing-masing. Itu sebuah keputusan yang di ambil, namun keputusan itu tidak boleh mengganggu komitment. Lalu bagaimana dengan perasaan?

Sama seperti cinta yang hilang dan tumbuh sesuai dengan mood kita sebagai manusia. Semuanya akan datang dan pergi. Tetaplah berpegang pada komitment.
Ipung kembali tersenyum sambil membayangkan apa reaksi Mey jika ia share status sahabatnya kepada kekasihnya itu. Good luck yaaa, Pung.

Dan bagaimana reaksi Anda jika Ipung membaginya dengan Anda? :P

Kamis, 16 Desember 2010

Pasukan Garuda menaklukkan Tim Philipina 1-0 tadi malam

Deg-degan juga ya nonton pasukan Garuda main lawan tim Philipina. Tapi saya suka dengan suasana euphoria yang sampai terjadi di rumah-rumah keluarga Indonesia. Bayangkan saja, remote tv yang biasanya jadi rebutan dan bahan perselisihan keluarga setiap 'prime time', tadi malam seolah terjadi kesepakatan bersama, konsensus mulai dari sang Bapak, Ibu, Nenek, Kakek, Anak-anak hingga Asisten Rumah Tangga untuk tidak memindahkan saluran TV yang menayangkan pertandingan sepak bola antara Pasukan Garuda melawan tim Philipina tadi malam. WOW! Luar Biasa!

Pasukan Garuda memang luar biasa. Perjuangan yang berat baik dari sisi pemain, pelatih, manajemen team membuahkan hasil walaupun belum selesai. Ego ego yang dikantungi untuk satu tujuan bersama tidak bisa dipungkiri akan membuahkan kesuksesan. Keluarga Indonesia bisa mengambil banyak pelajaran dari proses yang melelahkan ini. Meningkatkan skill individual dengan membuka diri terhadap pengembangan pribadi maupun pasangan, pemimpin keluarga yang visioner memandang kedepan bukan masa lalu, anak-anak yang membiarkan pengarahan orang tua dan percaya semuanya itu demi kebaikan mereka, pengaturan finansial yang berorientasi investasi dan masa depan. Luar biasa. 

Saya pribadi mengucapkan syukur atas melajunya Timnas Pasukan Garuda ke babak berikutnya hingga Final nanti karena banyak pelajaran yang di dapat dari event ini. Selamat kepada seluruh team sukses Pasukan Garuda. Hidup Indonesia! Hidup Keluarga Indonesia!

Sumber photo : www.tvbola.us

Kamis, 04 November 2010

Dik Doang

Saya nyesel cuma nonton 10 menit terakhir Dik Doang di acara Metro TV Kamis malam jam 11am gitu deh. Dik didesak Panji dengan pertanyaan apakah pemerintah bisa di salahkan atas jatuhnya korban akibat bencana. Dik Doang mengungkapkan banyak point bagus kemudian misalnya bencana tidak akan dibilang bencana seandainya manusia tidak bisa mengambil hikmah dari kejadian alam itu, alam akan memperbaiki wajahnya sendiri lewat tsunami, banjir, gempa, letusan gunung. Tugas manusia adalah mencintai alam, tidak menyakitinya, tidak merusaknya, menjaganya karena alam berbicara, alam berdoa, alam menangis, alam tertawa.

Ungkapan penutup yang luar biasa adalah air adalah lambang cinta alam. Saat turun hujan, manusia mengumpat "Sialan hujan, jadi macet deh jalanan." Sang hujan sedih diumpat manusia. Lalu dia bertanya kepada Tuhan "Tuhan, siapa yang manusia umpat itu ku atau Engkau yang menciptakan aku." Lalu Tuhan menjawab "Benar. Manusia mengumpat Aku sebagai penciptamu." Hujan kembali bertanya "Lalu apa yang harus aku lakukan, apa yang akan Kau lakukan?" Tuhan berkata "Aku akan memberi pengertian dan pelajaran dengan memberinya lebih banyak hujan lagi sampai mereka tersadar dan mengambil hikmahnya."
Lalu hujan kembali bertanya "Jika manusia tetap tidak sadar ya Tuhanku." Tuhan berkata "Aku akan memberinya terus dan terus hingga manusia mengerti, sadar dan mengakui bahwa Akulah Tuhan, pencipta alam semesta dan isinya."

Luar biasa ya. Jika seorang istri mengumpat suaminya. Hati - hati dia mengumpat Tuhannya. Jika seorang suami menyumpah dalam hati agar istrinya mendapat celaka. Dia telah menyumpah Tuhannya. Ngeri yaaa...
So suami yang memimpin sebuah family incorporation tentu belajar banyak dari Dik Doang malam ini. Dan istri yang mendampingi sang pemimpin juga segera bisa berintrospeksi oleh karena teguran pernyataan Dik Doang.
Anak-anak yang membenci orang tuanya, urungkan niat kalian. Kalian sedang membenci Tuhan. Dan kita semua tentu tidak mau Tuhan memberi dan terus memberi dengan sabar anugerah dan kebesarannya hingga kita tersadar, bertekuk lutut, mengatupkan tangan, menutup mata, membesarkan hati dan meneteskan air mata hati bersyukur atas keluarga yang diberikan kepada kita untuk kita jaga dan bangun hingga sukses dimata Tuhan dan sesama.

Terima kasih lagi kepada Dik Doang dan selamat malam buat semua. Jangan lupa ya, kita sama-sama berdoa, bersyukur atas apapun yang kita alami, mungkin ada diantara kita yang sedang mengalami perasaan yang hancur akibat ulah pasangan, ulah anak-anak, tekanan ekonomi ... jangan mengumpat, bersyukur dan mohon kekuatan Tuhan karena segala sesuatu diciptakan olehNya.

Selasa, 02 November 2010

Family Inc.: Don't waste your limited time living someone else'...

Family Inc.: Don't waste your limited time living someone else'...: "Steve Job sang pendiri kelompok usaha Apple berkata : ' Your time is limited, so don’t waste it living someone else’s life. Don’t be ..."

Don't waste your limited time living someone else's life.





Steve Job sang pendiri kelompok usaha Apple berkata : 


" Your time is limited, so don’t waste it living someone else’s life. Don’t be trapped by dogma, which is living with the results of other people’s thinking. Don’t let the noise of others’ opinions drown out your own inner voice, heart and intuition. They somehow already know what you truly want to become. Everything else is secondary."


Keren yaa... Dalam membangun satu keluarga yang incorporated dengan tujuan yang jelas, kadang kita harus menerapkan apa yang di katakan Steve. Waktu kita terbatas oleh pertumbuhan usia anak-anak dan umur kita sendiri. Lalu, buat apa bersusah payah ngurusin keluarga lain. Atau untuk pasangan, suami terlalu mengurusi kehidupan istri hingga ke hal-hal yang detail, private. Begitu juga sebaliknya.


Ayolah, Anda pasti sepakat dengan saya bahwa dalam berkeluargapun kita membutuhkan ruang dan waktu untuk sendiri. Manusia memang makhluk sosial tapi juga makhluk individu. 


Jika keluarga Anda di ganggu oleh kawanan yang tidak jelas dengan pemikiran mereka. Mari kita cek lagi apakah komitmen, visi dan misi Anda bersama pasangan membawa nilai positive bagi lingkungan dan kehidupan banyak orang. Jika jawabannya ya, menurut Steve, don't be trapped by the dogma, yang dihasilkan oleh pikiran pikiran orang lain. Dengarkan suara hati, intuisi Anda dan pasangan.


Btw, Ipung belum menjawab pertanyaan Mei ya? Saya juga masih menunggu nih, semoga dalam waktu dekat, kita semua akan tahu jawabannya. Stay Tune!


Sumber : gambar

Jumat, 29 Oktober 2010

Kenapa?

Kenapa orang harus memancing emosi orang lain untuk satu kesia-siaan? Apakah ada kepuasan di sana? Apakah Anda suka melakukannya? Pesan saya, Anda harus mengetahui lawan bicara Anda paling tidak 99% luar dan dalam untuk melakukannya. Hal ini untuk menghindari hal-hal yang terjadi di luar kendali Anda.

Anda sebagai pasangan juga saya harap tidak melakukannya terhadap pasangan Anda, jika Anda tidak benar-benar tahu pasangan Anda. Terutama situasi aktual seperti kondisi emosional, beban psikologisnya, rencananya, tekanan lingkungan dan sebagainya. Bahkan saat Anda ngotot merasa akan membantunya, Anda akan ditolak mentah-mentah. Jika Anda penasaran, silahkan mencoba dan Anda akan menikmati sensasi emosional yang tidak pernah Anda lihat sebelumny

Minggu, 24 Oktober 2010

Hari ke 23 Bulan ke 10 Tahun ke 2010 setelah kelahiran Yesus Kristus

Aku berdiri di pinggir pantai Sanur. Niatnya ingin melihat sunrise.
Angin pagi yang segar dengan sedikit percikan air laut yang asin menghantam lembut wajahku.
Aku tersenyum.
Warna lembayung jingga mulai tampak di cakrawala pagi nun jauh di sana.
Burung laut terbang rendah di atas muka laut, sesekali menungkik, menghujam dan terbang lagi dengan sarapan paginya.
Aku tersenyum. Sungguh, Tuhan menjaga mahkluk ciptaannya.
Aku terkejut saat kehangatan memelukku dan kecupan hangat mendarat di pipi kiriku.
Aku terjaga.

Sinar kekuningan dengan gelembung gelembung indah memenuhi pandanganku.
Mulai tampak samar namun semakin jelas wajah wanita tercantik yang telah setia menemaniku dalam untung dan malang, susah dan senang, cinta dan tak cinta, percaya dan curiga, kasih dan sayang.
Rupanya dia yang mendaratkan kecupan hangat di pipi kiriku.
"Selamat Ulang Tahun Papi," ucapnya lembut sambil melanjutkan ciumannya.


One day in your life
you'll remember a place
Someone's touching your face
You'll come back and you'll look around you

One day in your life
You'll remember the love you found here
You'll remember me somehow
Though you don't need me now
I will stay in your heart
when things fall apart You'll remember one day...
  
Untuk Indah,Catherine, Jessica, Veronica (my mom)  malaikat-malaikat bersayap putih yang menjagaku agar menuju pintu Surga (bukan yang satunya :)).

Seperti di setiap Sabtu pagi yang indah.
Aku menuju Dunkin Donuts setelah mengantar malaikat kecilku ke tempatnya bersosialisasi di institusi di bawah papan nama TK Katolik Santo Yoseph, Denpasar.
Lalu lintas pagi ini tidak terlalu ramai.
Jalan Dewi Sartika, Matahari Duta Plasa, Teuku Umar kulewati diantar oleh sinar matahari yang lembut membelai pungungku.
Triple Chocolate.
Coffee Late Hazellnut jadi pilihanku pagi ini.
Ah, tempat favoritku masih kosong.
Smoking Area.
Pojok kanan dekat pintu karyawan.
Kursi dan meja masih banyak yang kosong, ada keluarga kecil di sana.
Sang Ayah dengan rambut gondrongnya tampak sangat akrab dengan sang istri yang asyik baca koran.
Si kecil, laki-laki ganteng aktif yang tidak bisa diam mondar mandir.
Aku membuka tasku, menggapai laptop axioo pribadiku.
Kabel, semoga tidak ketinggalan.

Seperti biasa aku membuka blog familyincorporation.blogspot.com, facebook-ku, kemana.com dan beberapa website yang ingin kulihat dari referensi sahabatku.
facebook...
Untuk kedua kalinya aku tersenyum hari ini, saat kubuka facebook ku.
Hehehe...facebook memberiku ucapan Selamat Ulang Tahun yang melimpah dari sahabat.
Luar biasa.
Bahkan sahabat yang bertahun-tahun tak saling jumpa, jangankan tatap muka, bicara lewat telponpun nggak.
Satu persatu ku baca...
aku tersenyum...
kembali kehangatan memelukku....
aku menikmatinya...
dalam-dalam....

Oh Tuhan, seandainya mereka tahu betapa ucapan hangat mereka membawaku pada rasa, udara, langit kehangatan dan kembali membuatku terjaga, sadar bahwa hidup ini begitu berharga untuk disia-siakan.
Betapa ucapan hangat mereka membuatku selalu ingin bangkit saat terjatuh,
membuatku ingin membagi kehangatan mereka kepada setiap orang yang aku jumpai,
membuatku semakin bersyukur
dan bertekuk lutut dibawah salibMu.

One day in your life
When you find that you're always waiting
For the love we used to share
Just call my name
And I'll be there
 
Untuk semua sahabatku...terima kasih. Tetaplah menjadi sahabatku di Dunia maupun di Surga.
23 Oktober 2010.

Sabtu, 16 Oktober 2010

Pung, apakah lo masih mencintai gue?

Mei bertanya kepada Ipung :"Pung, apakah lo masih mencintai gue". Ipung yang saat itu sedang menghirup coffee latte-nya sontak tersedak. Bukan karena dia punya jawaban 'tidak' untuk pertanyaan itu. Tapi, karena baru saja mereka membahas bahwa untuk bisa mencapai kategori keluarga yang sukses yang diperlukan adalah komitmen, tidak cukup hanya cinta, bahkan mereka sepakat untuk mengesampingkan cinta.
Mei mengelus punggung Ipung, sementara yang diusap usap masih berjuang menyelesaikan sisa batuk akibat sedakan kopi di kerongkongannya.
"Emang perlu dijawab itu pertanyaan" tanggap Ipung setelah batuknya reda.
"Perlu" jawab Mei singkat
"Bukannya tadi sudah di bahas"
"Iya, tapi gue pengen jawaban kamu dan gue gak peduli apa jawaban lo."
"Lha, kalo begitu mah mending gue kagak usah jawab."
"Tapi gue butuh jawaban lo aja. Gue ngerasa perlu dapat jawaban itu dan elo harus jujur." desak Mei.
Ipung terdiam. Bukannya takut menjawab. Tapi ia tidak ingin mereka berdua kembali terjebak dalam retorika klasik mengenai cinta. Padahal mereka sudah bulat untuk menjunjung komitmen di atas cinta untuk meneruskan kisah mereka.

Apakah rasa cinta Ipung masih ada dan apakah Ipung akan menjawabnya? Silahkan tebak dalam hati dan stay tune untuk kisah selanjutnya. Great Sunday! Enjoy it with your family!

I trust you to make you trust me...

Ada seorang yang saya kenal sekaligus saya kasihani. Ia memiliki pernyataan yang sangat dikenal oleh koleganya "Don't Trust Anyone". Itu menyebabkan ia selalu ingin melakukan segalanya sendiri. Apabila ia meminta tolong orang lain melakukannya, ia akan mengeceknya...kalau perlu setiap 10 menit untuk memastikan bahwa apa yang dilakukan benar sesuai dengan keinginannya. Tebak apa hasilnya?

Pernyataannya negative biasanya juga akan menimbulkan pernyataan negative lainnya. Adalah seorang sahabatnya yang juga sahabat saya berucap dengan entengnya kepada saya "Gue mah kagak ambil pusing, kalo nilai yang dia anut begitu ya gue juga boleh dong ngomong ," If you don't trust me, so why do i have to trust you" - "Jika Anda tidak mempercayai saya, jadi mengapa saya harus mempercayai Anda".

Jika hal ini terjadi dalam satu perusahaan dan kalimat "Don't Trust Anyone" keluar dari pemimpin tertinggi atau bahkan pemilik perusahaan, kalimat sahabat saya yang bisa dianalogikan kalimat seorang profesional/ karyawan didalam organisasinya mungkin akan menjadi sebagai berikut " Jika Anda tidak mempercayai saya untuk menjalankan perusahaan ini, maka mengapa saya harus mempercayakan masa depan saya kepada Anda."  Waduh...

Dalam membangun sebuah keluarga, urusan "trust" ini setali tiga uang. Suami yang tidak memberikan kepercayaan kepada Istri, cepat atau lambat akan menuai 'gulungan tikar', demikian juga berlaku sebaliknya. Ketidak percayaan akan membuat semua yang direncanakan, dikerjakan, diimpikan menjadi sia-sia. Percaya kepada pasangan, menurut saya sama seperti kepercayaan seorang anak kecil kepada orang tuanya. Mereka hanya bertanya tapi tidak pernah mempertanyakan apa yang dilakukan kedua orang tuanya, arah kemana mereka pergi, sekolah yang dipilih orang tuanya, pakaian, makanan, minuman hingga larangan yang terucap dari mulut orang tuanya. 

   "Jika pada saat ini Anda sedang mengalami krisis kepercayaan. Itu wajar."

Percaya kepada pasangan, seharusnya berlaku hal yang sama. Anda khan tidak bisa mengikutinya sepanjang hari. Anda tidak bisa memantau bagaimana pasangan Anda bergaul, bercanda dengan sahabatnya. Mungkin Anda mulai tergoda untuk membuka handphone pasangan Anda untuk mendapatkan informasi sedikit mengenai 'sepak terjang' pasangan Anda. Anda mulai bertanya-tanya pada teman Anda atau teman pasangan Anda. Saya harus ingatkan bahwa hal seperti itu tidak dilakukan oleh anak-anak Anda saat Anda memilihkan sekolah untuk mereka, membelikan baju untuk mereka, meminta mereka berdoa sesuai dengan apa yang Anda yakini, makan apa yang Anda anjurkan. Dan Anda tentu ingin anak Anda percaya kepada Anda karena Anda hanya ingin melakukan yang terbaik untuk mereka. Demikian juga menurut Saya, pasangan Anda ingin Anda mempercayai mereka karena menurut mereka apa yang mereka lakukan adalah untuk Anda dan keluarga. Kalau tidak percaya (krisis kepercayaan kepada penulis :P), coba tanyakan sekarang juga kepada pasangan Anda.

Jika pada saat ini Anda sedang mengalami krisis kepercayaan. Mungkin pasangan Anda tidak sekedar bertanya, tapi dia sudah mulai mempertanyakan segala hal Anda lakukan. Kabar baiknya,  itu adalah hal paling wajar yang harus Anda lewati. Anda tidak sendirian. Semua pasangan pasti mengalami masa-masa buruk itu. Kuncinya adalah segera atasi, mulai dari diri Anda. Jika pasangan Anda tidak mempercayai Anda, tunjukkan bahwa Anda bisa dipercaya dan percayai dia tanpa alasan dan pamrih. Berdoa untuk Dia dan untuk Anda.

Alih-alih memiliki sikap 'Don't trust anyone' sebaiknya kita mengubah MIND SET dengan menggunakan ungkapan berikut :" I trust you to make you trust me." Saya percaya kepadamu supaya  kamu percaya kepada Saya. Atau 'I trust you because you trust me' Saya percaya Anda karena Anda percaya Saya'.

Mana yang lebih baik... itu terserah Anda dan mulai sekarang mari kita mulai sikap untuk mendapat kepercayaan seseorang, kita harus memulai dengan mempercayai seseorang. Have a great week end!

*seperti yang selalu saya sarankan : gunakan tulisan ini untuk menyampaikan pesan Anda kepada pasangan Anda. It's free! :)

Jumat, 15 Oktober 2010

Anak adalah result, produk sebuah keluarga

"Pulang dari rumah temennya bbrp hr yl, anakku bilang "mami, rumahnya si x enak deh, gede, kamar sendiri, kmana2 dianter supir, mau apa2 ada mbak yg siapin. tp kasian Mi, kalo siang dia ga pernah makan krn mami papinya sibuk. Ga enak jg deh, byk fasilitas tp maminya ga perhatian. Untung Maureen ga kyk gitu." :) Ternyata buat anak, tetap perhatian orang tua yg terpenting. Kids, mom loves u" 
Di atas adalah petikan status up date seorang teman di facebook. Seorang ibu dari anak-anak yang lucu dan cerdas. Ibu rumah tangga yang sibuk banget menjaga keseimbangan di rumah. Type ibu teladan. Saya sudah meminta ijin beliau mengutip status up date-nya untuk tulisan ini.
Status up date ini mencuri perhatian saya saat men-scroll down- fb . Facebook saya yang tidak setiap hari dibuka. Status up date ini menggoda saya untuk berbagi pandangan saya seputar posisi anak dalam sebuah keluarga dalam konteks family incorporation.
Anak adalah bagian sekaligus result  atau produk dari sebuah keluarga. Anak adalah visi sebuah keluarga. Anak yang mandiri dan sukses adalah sebuah visi. Merencanakan pendidikan dan pemenuhan kebutuhan materi maupun perhatian dan kasih sayang kepada anak adalah misi untuk mencapainya. 
Orang tua yang mengabaikan anak-anaknya sama saja dengan pemimpin perusahaan yang tidak peduli pada kualitas maupun pengembangan produk. Apa jadinya? Anda bisa memastikan masa depan keluarga (baca : perusahaan) ini tanpa produk yang bisa dibanggakan dan berkontribusi positif pada lingkungan (masyarakat). Kalau tidak pailit ... ya sudah pasti dipailitkan.
Bagaimana menurut Anda?
*stay tune … akan kita bahas secara khusus mengenai visi familyincorporation
Sumber : facebook sahabatku ATL