Jumat, 11 Juli 2014

Ketidaksetiaan

Dua hari yang lalu saya mengikuti misa sore di satu gereja Katolik besar di kota Denpasar. Dan keputusan saya untuk ikut misa adalah keputusan yang sangat baik untuk saya. Kotbah adalah satu yang selalu menarik buat saya. Jadi kalau orang lain mungkin menanti saat ini untuk mengistirahatkan panca indera alias tidur, saya malah 'bangun' pada saat homili atau kotbah. Kenapa? Karena secara kurang ajar saya selalu beradu ide dengan sang pengkotbah. Saya akan memberikan nilai 1 kepada saya dan 0 kepada pengkotbah jika menurut saya (ego) ide saya lebih menarik dan tepat, mudah di cerna dibanding ide sang pengkotbah.




Sore itu saya terpaksa harus memberikan score 1 - 0 untuk sang pengkotbah. Saya kalah. Bacaan injil sore itu adalah mengenai cerita saat Tuhan memilih para muridnya dan mengutus mereka untuk bekerja untuk Tuhan. Apa yang dilepaskan di bumi akan di lepas di surga dan apa yang diikat di bumi akan di ikat di surga. Kesetiaan menurut versi Tuhan. Ide yang membuat saya tersungkur kalah adalah sebuah ide dari Romo Kris, nama sang pengkotbah mengenai ketidaksetiaan. Romo Kris menyampaikan sore itu bahwa ketidaksetiaan berasal dari ketidaksabaran pada proses sehingga meninggalkan masalah mencari tempat, waktu, suasana baru. Sementara saya, I have idea about loyalty but it is just an ordinary idea about doing fairness, no cheating etc etc. Basicly, I have no idea! Kalah Telak.

Hingga beberapa hari saya masih memikirkan idea ketidaksetiaan tersebut. Bahkan saya sempat membaginya kebeberapa sahabat dan orang yang saya temui. Beberapa dari mereka seperti tersengat listrik saat mendengarnya (seperti saya). Ini membuktikan bahwa ide Romo Kris adalah sebuah ide yang briliant mengandung pencerahan tingkat tinggi (baca : tingkat dewa).


Senin, 18 November 2013

Cinta Chicken Burger

Ipung merogoh kantungnya, mencari beberapa lembar limapuluh ribuan. 'Sekedar memastikan',katanya dalam hati, "daripada malu didepan kasir". Disambut hangat oleh pelayan dibelakang konter 'take away' yang lumayan cantik, Ipung balas tersenyum.
 "Chicken Burger dong, double cheese ya," kata Ipung pasti,"minumnya Es Cincau."
Sontak si pelayan mikir, mau bicara tapi ragu-ragu "Maaf Mas, serius mau pesan es cincau?" tanyanya. "Iyalah Mbak, haus banget nih," jawab Ipung cepat.
 "Tapi, Mas..mmm...kami nggak jual es cincau, gimana kalau di ganti sama es jelly ajah. Lebih ganteng mas kalo makan burger pake jelly ketimbang es cincau," kata si mbak.
"Masak sih gitu? Hmmm...kalo bener. Oke deh, es jelly aja," kata Ipung antara percaya sama enggak.


Sambil duduk menunggu pesananannya datang, pikiran Ipung melayang pada kejadian semalam. Sahabatnya Daniel datang dengan wajah yang nggak karuan, sedikit lusuh banyak kusutnya.
"Kenapa lo Dan? Muka udeh kayak pepes oncom (baca : masih mending pepes oncom enak dimakan)."
"Pusing gue Punk, si Mia (istri Daniel) bilang perkawinan gue sama dia hambar. Emang dia kata Cap Cay apa, pake hambar segala."
"Trus..." kata Ipung penasaran
"Katanya gak seperti dulu, banyak warna, lebih gurih." Daniel tambah murung.
"Mungkin si Mia abis nonton Master Chef kali."
"Becanda lo Punk. Gue lagi sedih nih. Traktir Mie Tek Tek kek, Martabak kek, Apa kek...."
"Eh, bilangin sama si Mia, khan udeh gue bilang dari dulu, perasaan itu menipu, komitment lah yang jalan after marriage. Kalo pake komitment, rasa udeh gak ngaruh lagi. KFC, Mc D dari dulu ya begitu rasanya. Mereka komit, malah kalo rasa berubah bisa pada kabur pelanggannya. Bener gak?"
Daniel manggut-manggut, matanya sudah mulai menunjukkan cahaya - sedikit. Masih belum jelas betul apa dia mengerti maksud Ipung atau pura-pura ngerti.
"Nah, kalau si Mia bilang rasanya jadi hambar. Jangan-jangan elo berdua yang merubah rasanya..."

"Chicken Burger dan Es Jelly-nya, Mas" kata si pelayan membuyarkan bayangan Daniel tadi malam.
"Terima kasih ya, Mbak. Mau tanya boleh ?"
"Boleh Mas, asal gak tanya Pin BB aja." kata si Mbak.
"Ahhh si Mbak bisa aja mentang-mentang bening, pasti banyak yang minta no. BB-nya ya?"
Yang di tanya malah mesem mesem aja.
"Saya mau tanya aja, menurut mbak, rasa Chicken Burger ini sama atau nggak dengan waktu resto ini dibuka dulu?" tanya Ipung penasaran.
"Sama lah, Mas. Resepnya khan itu-itu aja. Pernah sih tempo hari si Bos pingin bikin Burger rasa Jengkol. Tapi gak terlalu laku, banyak yang bilang jengkol nggak enak di buat burger enaknya di buat semur."
" Oh gitu ya. Oke deh, terima kasih ya mbak. Ngomong - ngomong, knapa emang saya nggak boleh minta no BB situ. Mbak nggak suka sama muka saya ya?" tanya Ipung penasaran.
"eeehhh anu mas...eehhh saya gak punya BB." kata si mbak sambil ngeloyor pergi.
Ihhh, si mbak gak usah punya BB kali, Android lah, pikir Ipung sewot.

Masih menikmati Chicken Burger, hape Ipung bunyi minta diangkat.
"Halo.. Iya, Dan...What's up bro?"
Ternyata Daniel yang menghubungi.
"Pung, gue lagi mikirin apa yang lo omongin tadi malam."
Dalam hati Ipung ketawa, tuh bener khan ini anak nggak ngerti.
"Ternyata elo cerdas juga ya, Pung. Setelah gue pikir-pikir, memang gue dan Mia mengurangi resep standard perkawinan."
"Maksud lo..." Ipung sebenernya ngerti arah pembicaraannya tapi pingin tau aja bener gak otaknya si Daniel.
"Iya, Pung. Bini gue itu dulu setiap pagi selalu nyiapin teh panas, makanan untuk di bawa ke toko gue. Belakangan kagak pernah. Pas gue ngomong ke Mia, ternyata doi juga komplain, katanya gue sekarang jarang pijatin dia, traktir makan bakso kesukaan dia."
"Ohhh jadi maksud lo itu ngurangin resep," pinter juga ternyata sahabatnya itu, kata Ipung dalam hati.
"Iya Pung,"
"Ya udah, elo ternyata lebih cerdas dari yang gue bayangkan, Dan. Hahahahaha... sana cari resep aslinya, balik lagi masak yang itu biar gak kusut lagi muka lo." Diujung telephone terdengar suara ngakak puas sebelum terdengar bunyi nada telephone  berakhir

Burger di tangan Ipung sudah ludes dan es jelly juga sudah tinggal esnya aja.
Ipung berdiri dan bersiap meninggalkan resto.
Chicken burger yang enak, semoga kamu tidak merubah resep yang sudah kamu komitmenkan kepadaku ya, harap Ipung dalam hati sambil menuju ke mobilnya.


Selasa, 24 April 2012

Bahagiamu bahagiaku

Kenapa sih orang bahagia? Bagaimana dengan Anda, kapan terakhir Anda merasa bahagia? Saat ini, 10 menit yang lalu, kemarin, 3 (tiga) hari yang lalu, minggu lalu atau malah sudah lupa kapan perasaan bahagia itu menyerang Anda sehingga Anda merasa ada di puncak dunia.

John Maxwell mengatakan bahwa kebahagiaan adalah hak setiap pribadi dan sifatnya pun sangat personal. Siapapun tidak berhak merebut rasa bahagia dari seseorang, dari Anda. Rasa bahagia itu diciptakan bukan tercipta. Kebahagiaan Anda dan Saya se'halal'nya tidak di sebabkan oleh perbuatan orang lain atau kejadian tertentu. Rasa bahagia itu diciptakan secara sengaja oleh Anda untuk Anda sendiri, dari Saya untuk Saya sendiri.

Jadi jika Anda sudah lammmaaaaaaa sekali tidak merasakan sensasi rasa bahagia dan Anda ingin segera merasakannya, berbahagialah sekarang juga. Katakan dengan bersuara " Saya bahagia, saya bahagia, saya bahagia, saya bahagia, saya bahagia..." dan rasakan sensasi kebahagiaan itu menyelimuti seluruh tubuh dan pikiran Anda. Aura Andapun terlihat cerah. Saya sudah bisa melihatnya dari sini :) . Have a happy day!

Indonesia, 25 April 2012


Jumat, 06 April 2012

@IpungPacinko

Ipung membuka BB-nya. Ia ingin mengoptimalisasikan hand set yang belakangan ini menemaninya saat gak ada yang bisa dilakukan. Banyak pula kerjaan komunikasi yang diselesaikan lewat BB-nya. Social Media sebenarnya juga bukan hal baru buatnya. Hanya saja semuanya dilakukan lewat laptopnya instead of smart phone-nya. Malam ini Ipung sedang getol ingin segera memiliki akun twitter. Kenapa? Dimana-mana Ipung melihat @ini, @itu, @siini atau @siitu :). Di televisi, di koran, di billboard bahkan di plastik bungkus tissue toiletnya. So, jadilah malam ini akun twitter Ipung. Buat Anda yang mau jadi follower, tentu Ipung gak akan mengecewakan Anda. Ipung yakin, dengan hadirnya dia di dunia twitter. Ipung akan lebih sering share cerita ceritanya. "Saya akan up date di akun twitter saya, kalau ada share yang penting (baca:menggemaskan) untuk di bagikan,"kata Ipung sambil nyengir dan menunjukkan akun twitternya @IpungPacinko. Have a great day.

Variable untuk persamaan yang rumit

Banyak kejadian berlalu sejak Ipung meletakkan gagang teleponnya setahun yang lalu. Tidak terlalu banyak yang berubah. Si karyawan tidak jadi di pecat dengan berbagai pertimbangan. Mulai dari rasa kasihan hingga hal-hal yang menyangkut aspek legal. Keluhanpun masih terdengar dan terkadang terasa terlalu banyak buat seorang Ipung yang hampir jarang memiliki pikiran negative.
Beberapa hal sudah dilakukan agar terjadi perubahan, namun kata orang barat 'at the end of the day' itu soal tabiat dan menurut mentornya 'daripada mengharapkan orang berubah, sebaiknya kita dulu yang berubah'. Apakah Ipung mau melakukan beberapa perubahan? "Iyalah, saya sudah mencoba melakukan perubahan dalam pola tindakan dan pikiran saya. Bahkan beberapa kali saya mengikuti apa yang dia inginkan - walaupun itu mengkhianati postur dan sebenarnya memperparah si Karyawan". Terus? "Saya sudah memutuskan bahwa  negative thinking si Karyawan sudah tabiat yang walaupun sudah menerima perubahan yang saya rela lakukan, tidak bisa membuatnya lebih baik buat saya, buat perusahaan. Jadi, biarlah seperti ini. So, be it," lanjut Ipung.
Bagaimana menurut Anda? Ah, saya tahu. Pasti Anda bilang Ipung bodoh. Harusnya dipotong saja. Kalau sudah tahu membawa hal negative. By the way, tau nggak? Jangan bilang-bilang ya. Saya juga setuju sama Anda. Tapi, buat Anda yang tidak setuju. Hmmmm, saya juga ada di pihak Anda. Karena beda banget antara menjadi penonton dan menjadi pelaku. Jauh lebih mudah menjadi penonton ketimbang pelaku, pemain. Mulai dari komitmen hingga legal aspect adalah variabel yang bergerak untuk menghasilkan sebuah keputusan. Tidak bisa mengunci satu variable dan membiarkan yang lainnya bergerak liar. Di kehidupan perkawinan, kehidupan keluarga - setali tiga uang. Terlalu banyak variabel yang menjadi komponen persamaan kehidupan. So, complicated. Jadi, melalui blog ini, saya sangat berharap bagi kaum muda, belajar, jangan gegabah, dengarkan, pertimbangkan bahwa kehidupan perkawinan, kehidupan keluarga tidak sesederhana yang banyak kaum muda pikirkan.

Jumat, 26 Agustus 2011

Ipung dan Eko

Ipung meletakkan gagang telepon. "Gimana caranya bisa membuat orang ini berhenti mengeluh,"pikirnya sambil menghempaskan punggung ke sandaran kursi kerjanya. Adalah Eko rekan kerjanya yang sejak pertama kenalan lebih banyak memberikan kesan negative terhadap perusahaan ketimbang hal yang positif. Beberapa kali Ipung sudah mencoba mengalirkan 'energi positif' kepada Eko namun hasilnya bagaikan masuk kuping kiri keluar kuping kanan. Tangan Ipung meraih Blackberrynya dan mengirimkan pesan BB kepada atasannya mengenai up date kondisi perusahaan. Hari memang sudah semakin senja. Hampir semua rekan kerja sudah meninggalkan meja masing-masing. BBnya bergetar, tanda pesan balasan dari atasannya masuk. Pesannya berbunyi sangat simple namun tegas "Jika sudah tidak satu visi sebaiknya dipertimbangkan untuk di terminate". Ipung seperti tersengat listri, disatu sisi kaget namun ada kegembiraan sedikit disana karena solusi yang di tawarkan. Jempolnya menggeser layar ke atas dan ke bawah untuk membaca pesannya berulang-ulang lagi, sambil memikirkan langkah selanjutnya. 
Sebenarnya langkah ini adalah langkah terakhir dari sekian langkah yang harus dicoba, dilaksanakan untuk mencegahnya terjadi. Betul, visi yang sudah tidak sama bisa diterjemahkan sebagai tidak cocok, tidak ingin membangun impian bersama, ingin mencari tempat lain yang memiliki visi yang sama dan sejenisnya. Atasan Ipung sebagai seorang pengusaha mungkin sudah memiliki banyak pengalaman dimana tidak mungkin terjalin kerja sama yang baik dan saling menguntungkan jika dalam satu organisasi terjadi perbedaan visi sehingga komitmen tidak bisa lagi di jalankan bersama.
Bagaimana dengan sebuah keluarga, sebuah perkawinan ? Bagaimana jika sudah tidak terjadi ketidaksamaan visi antara suami, istri, anak-anak ? Bagimana jika komitmen tidak lagi bisa dijalankan bersama untuk alasan apapun? 
Sama seperti yang Ipung laksanakan langkah terbaik sebenarnya adalah kembali menyamakan visi. Apa yang hendak di capai oleh keluarga seperti pada awal sebuah keluarga di bangun. Dapatkan kesepakatan itu, perjuangkan. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana jika itu sudah dilakukan dan tidak pernah berhasil? Jawaban atas pertanyaan tersebut adalah juga berupa pertanyaan ; berapa lama dan seberapa keras hal itu sudah dicoba dan dijalankan? 
(to be continue)

Senin, 11 Juli 2011

Kasih Sepanjang Masa,Hanya Memberi Tak Harap Kembali

Saya sejenak memikirkan cerita Malin Kundang yang dikutuk ibunya. Alasan sang penyampai cerita adalah karena Malin Kundang sudah sangat keterlaluan dan tidak menganggapnya sebagai Ibu. Kemudian saya membandingkannya dengan cerita pada jaman Raja Salomo dimana seorang ibu yang merelakan anaknya agar tidak ‘dibelah’ menjadi dua bagian karena ada wanita lain yang mengakui sebagai ibu dari anak yang diperebutkan. Sementara si wanita lain itu setuju dengan ide sang hakim Agung raja Salomo (yang melakukan triknya dengan sangat baik) untuk ‘membelah’ si bayi menjadi dua bagian.
Kemudian saya membandingkannya lagi dengan lagu Kasih Ibu, kasih ibu kepada beta..tak terhingga sepanjang masa…hanya memberi tak harap kembali …bagai sang surya menyinari dunia.
Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada saudara-saudara dari ranah Minang, saya mulai bertanya apakah ibu dalam cerita Malin Kundang itu adalah ibu kandung Malin Kundang. Kenapa sebagai ibu kandung beliau tega mengeluarkan sumpah atas anaknya sendiri, darah dagingnya sendiri, buah kasihnya yang sepanjang masa, kasih yang diberikannya tanpa harap kembali. Walau kemudian sang ibu menyesal dengan kata-katanya sendiri setelah melihat kenyataan apa yang diucapkannya menjadi kenyataan.
Dalam hidup rumah tangga, pasangan kita tentu tidak sehebat ibu atau ayah yang dengan tulus menyayangi. Namun oleh sang waktu cinta yang membara diawal menurut scenario harusnya dirubah menjadi kasih yang tak lekang oleh waktu. Dan bentuk kasih itu akan mendekati kadar kasih dari seorang ibu atau bapak. Sehingga semua bentuk interaksi antara keduanya adalah atas dasar kasih. Emosi yang sangat manusiawi muncul dalam perjalanannya tidak menyebabkan salah seorang di antara pasangan itu sampai hati mengeluarkan sumpah serapah demi kehancuran pasangannya. Apalagi diungkapkan dihadapan pasangannya.
Ibu Malin Kundang mengalami pengkhianatan oleh putranya sendiri. Namun karena satu dan lain hal sumpah serapah keluar dari mulut sang ibu. Kalau boleh saya sarankan jangan jadikan ini sebagai justifikasi Anda untuk melakukannya kepada pasangan Anda. Baik Anda Suami maupun Istri. Buat calon pasangan, Anda harus meyakinkan diri bahwa Anda tidak akan melakukannya kepada pasangan Anda sekalipun Anda mendapatkan perlakuan yang buruk. Jika hidup Anda terancam lebih baik Anda pergi ketimbang bertahan namun Anda menyumpahi untuk kehancuran pasangan Anda. Karena itu tandanya Anda sudah tidak memiliki kasih lagi kepada pasangan Anda dan menginginkan kehancuran pasangan Anda. Terlepas dari apa yang dilakukan pasangan Anda, seburuk apakah itu. Lebih baik Anda mendoakannya tanpa berusaha merubah. Serahkan kepada Tuhan dan terus limpahkan pasangan Anda dengan kasih. Jika tidak terjadi perubahan, Anda berhak untuk mengambil kendali atas hidup Anda dan melakukan evaluasi terhadap komitment, visi dan misi yang ditetapkan pada awal perjalanan bersama pasangan. Evaluasi tindakan-tindakan Anda, introspeksi itu lebih baik dari pada menyerang pasangan Anda terus menerus. Anda berhak untuk hidup lebih baik, Anda berhak untuk mengambil bagian dalam visi dan misi yang baru , menciptakan dunia yang baru.