Kenapa sih orang bahagia? Bagaimana dengan Anda, kapan terakhir Anda merasa bahagia? Saat ini, 10 menit yang lalu, kemarin, 3 (tiga) hari yang lalu, minggu lalu atau malah sudah lupa kapan perasaan bahagia itu menyerang Anda sehingga Anda merasa ada di puncak dunia.
John Maxwell mengatakan bahwa kebahagiaan adalah hak setiap pribadi dan sifatnya pun sangat personal. Siapapun tidak berhak merebut rasa bahagia dari seseorang, dari Anda. Rasa bahagia itu diciptakan bukan tercipta. Kebahagiaan Anda dan Saya se'halal'nya tidak di sebabkan oleh perbuatan orang lain atau kejadian tertentu. Rasa bahagia itu diciptakan secara sengaja oleh Anda untuk Anda sendiri, dari Saya untuk Saya sendiri.
Jadi jika Anda sudah lammmaaaaaaa sekali tidak merasakan sensasi rasa bahagia dan Anda ingin segera merasakannya, berbahagialah sekarang juga. Katakan dengan bersuara " Saya bahagia, saya bahagia, saya bahagia, saya bahagia, saya bahagia..." dan rasakan sensasi kebahagiaan itu menyelimuti seluruh tubuh dan pikiran Anda. Aura Andapun terlihat cerah. Saya sudah bisa melihatnya dari sini :) . Have a happy day!
Indonesia, 25 April 2012
Selasa, 24 April 2012
Jumat, 06 April 2012
@IpungPacinko
Ipung membuka BB-nya. Ia ingin mengoptimalisasikan hand set yang belakangan ini menemaninya saat gak ada yang bisa dilakukan. Banyak pula kerjaan komunikasi yang diselesaikan lewat BB-nya. Social Media sebenarnya juga bukan hal baru buatnya. Hanya saja semuanya dilakukan lewat laptopnya instead of smart phone-nya. Malam ini Ipung sedang getol ingin segera memiliki akun twitter. Kenapa? Dimana-mana Ipung melihat @ini, @itu, @siini atau @siitu :). Di televisi, di koran, di billboard bahkan di plastik bungkus tissue toiletnya. So, jadilah malam ini akun twitter Ipung. Buat Anda yang mau jadi follower, tentu Ipung gak akan mengecewakan Anda. Ipung yakin, dengan hadirnya dia di dunia twitter. Ipung akan lebih sering share cerita ceritanya. "Saya akan up date di akun twitter saya, kalau ada share yang penting (baca:menggemaskan) untuk di bagikan,"kata Ipung sambil nyengir dan menunjukkan akun twitternya @IpungPacinko. Have a great day.
Variable untuk persamaan yang rumit
Banyak kejadian berlalu sejak Ipung meletakkan gagang teleponnya setahun yang lalu. Tidak terlalu banyak yang berubah. Si karyawan tidak jadi di pecat dengan berbagai pertimbangan. Mulai dari rasa kasihan hingga hal-hal yang menyangkut aspek legal. Keluhanpun masih terdengar dan terkadang terasa terlalu banyak buat seorang Ipung yang hampir jarang memiliki pikiran negative.
Beberapa hal sudah dilakukan agar terjadi perubahan, namun kata orang barat 'at the end of the day' itu soal tabiat dan menurut mentornya 'daripada mengharapkan orang berubah, sebaiknya kita dulu yang berubah'. Apakah Ipung mau melakukan beberapa perubahan? "Iyalah, saya sudah mencoba melakukan perubahan dalam pola tindakan dan pikiran saya. Bahkan beberapa kali saya mengikuti apa yang dia inginkan - walaupun itu mengkhianati postur dan sebenarnya memperparah si Karyawan". Terus? "Saya sudah memutuskan bahwa negative thinking si Karyawan sudah tabiat yang walaupun sudah menerima perubahan yang saya rela lakukan, tidak bisa membuatnya lebih baik buat saya, buat perusahaan. Jadi, biarlah seperti ini. So, be it," lanjut Ipung.
Bagaimana menurut Anda? Ah, saya tahu. Pasti Anda bilang Ipung bodoh. Harusnya dipotong saja. Kalau sudah tahu membawa hal negative. By the way, tau nggak? Jangan bilang-bilang ya. Saya juga setuju sama Anda. Tapi, buat Anda yang tidak setuju. Hmmmm, saya juga ada di pihak Anda. Karena beda banget antara menjadi penonton dan menjadi pelaku. Jauh lebih mudah menjadi penonton ketimbang pelaku, pemain. Mulai dari komitmen hingga legal aspect adalah variabel yang bergerak untuk menghasilkan sebuah keputusan. Tidak bisa mengunci satu variable dan membiarkan yang lainnya bergerak liar. Di kehidupan perkawinan, kehidupan keluarga - setali tiga uang. Terlalu banyak variabel yang menjadi komponen persamaan kehidupan. So, complicated. Jadi, melalui blog ini, saya sangat berharap bagi kaum muda, belajar, jangan gegabah, dengarkan, pertimbangkan bahwa kehidupan perkawinan, kehidupan keluarga tidak sesederhana yang banyak kaum muda pikirkan.
Beberapa hal sudah dilakukan agar terjadi perubahan, namun kata orang barat 'at the end of the day' itu soal tabiat dan menurut mentornya 'daripada mengharapkan orang berubah, sebaiknya kita dulu yang berubah'. Apakah Ipung mau melakukan beberapa perubahan? "Iyalah, saya sudah mencoba melakukan perubahan dalam pola tindakan dan pikiran saya. Bahkan beberapa kali saya mengikuti apa yang dia inginkan - walaupun itu mengkhianati postur dan sebenarnya memperparah si Karyawan". Terus? "Saya sudah memutuskan bahwa negative thinking si Karyawan sudah tabiat yang walaupun sudah menerima perubahan yang saya rela lakukan, tidak bisa membuatnya lebih baik buat saya, buat perusahaan. Jadi, biarlah seperti ini. So, be it," lanjut Ipung.
Bagaimana menurut Anda? Ah, saya tahu. Pasti Anda bilang Ipung bodoh. Harusnya dipotong saja. Kalau sudah tahu membawa hal negative. By the way, tau nggak? Jangan bilang-bilang ya. Saya juga setuju sama Anda. Tapi, buat Anda yang tidak setuju. Hmmmm, saya juga ada di pihak Anda. Karena beda banget antara menjadi penonton dan menjadi pelaku. Jauh lebih mudah menjadi penonton ketimbang pelaku, pemain. Mulai dari komitmen hingga legal aspect adalah variabel yang bergerak untuk menghasilkan sebuah keputusan. Tidak bisa mengunci satu variable dan membiarkan yang lainnya bergerak liar. Di kehidupan perkawinan, kehidupan keluarga - setali tiga uang. Terlalu banyak variabel yang menjadi komponen persamaan kehidupan. So, complicated. Jadi, melalui blog ini, saya sangat berharap bagi kaum muda, belajar, jangan gegabah, dengarkan, pertimbangkan bahwa kehidupan perkawinan, kehidupan keluarga tidak sesederhana yang banyak kaum muda pikirkan.
Jumat, 26 Agustus 2011
Ipung dan Eko
Ipung meletakkan gagang telepon. "Gimana caranya bisa membuat orang ini berhenti mengeluh,"pikirnya sambil menghempaskan punggung ke sandaran kursi kerjanya. Adalah Eko rekan kerjanya yang sejak pertama kenalan lebih banyak memberikan kesan negative terhadap perusahaan ketimbang hal yang positif. Beberapa kali Ipung sudah mencoba mengalirkan 'energi positif' kepada Eko namun hasilnya bagaikan masuk kuping kiri keluar kuping kanan. Tangan Ipung meraih Blackberrynya dan mengirimkan pesan BB kepada atasannya mengenai up date kondisi perusahaan. Hari memang sudah semakin senja. Hampir semua rekan kerja sudah meninggalkan meja masing-masing. BBnya bergetar, tanda pesan balasan dari atasannya masuk. Pesannya berbunyi sangat simple namun tegas "Jika sudah tidak satu visi sebaiknya dipertimbangkan untuk di terminate". Ipung seperti tersengat listri, disatu sisi kaget namun ada kegembiraan sedikit disana karena solusi yang di tawarkan. Jempolnya menggeser layar ke atas dan ke bawah untuk membaca pesannya berulang-ulang lagi, sambil memikirkan langkah selanjutnya.
Sebenarnya langkah ini adalah langkah terakhir dari sekian langkah yang harus dicoba, dilaksanakan untuk mencegahnya terjadi. Betul, visi yang sudah tidak sama bisa diterjemahkan sebagai tidak cocok, tidak ingin membangun impian bersama, ingin mencari tempat lain yang memiliki visi yang sama dan sejenisnya. Atasan Ipung sebagai seorang pengusaha mungkin sudah memiliki banyak pengalaman dimana tidak mungkin terjalin kerja sama yang baik dan saling menguntungkan jika dalam satu organisasi terjadi perbedaan visi sehingga komitmen tidak bisa lagi di jalankan bersama.
Bagaimana dengan sebuah keluarga, sebuah perkawinan ? Bagaimana jika sudah tidak terjadi ketidaksamaan visi antara suami, istri, anak-anak ? Bagimana jika komitmen tidak lagi bisa dijalankan bersama untuk alasan apapun?
Sama seperti yang Ipung laksanakan langkah terbaik sebenarnya adalah kembali menyamakan visi. Apa yang hendak di capai oleh keluarga seperti pada awal sebuah keluarga di bangun. Dapatkan kesepakatan itu, perjuangkan. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana jika itu sudah dilakukan dan tidak pernah berhasil? Jawaban atas pertanyaan tersebut adalah juga berupa pertanyaan ; berapa lama dan seberapa keras hal itu sudah dicoba dan dijalankan?
(to be continue)
Senin, 11 Juli 2011
Kasih Sepanjang Masa,Hanya Memberi Tak Harap Kembali
Saya sejenak memikirkan cerita Malin Kundang yang dikutuk ibunya. Alasan sang penyampai cerita adalah karena Malin Kundang sudah sangat keterlaluan dan tidak menganggapnya sebagai Ibu. Kemudian saya membandingkannya dengan cerita pada jaman Raja Salomo dimana seorang ibu yang merelakan anaknya agar tidak ‘dibelah’ menjadi dua bagian karena ada wanita lain yang mengakui sebagai ibu dari anak yang diperebutkan. Sementara si wanita lain itu setuju dengan ide sang hakim Agung raja Salomo (yang melakukan triknya dengan sangat baik) untuk ‘membelah’ si bayi menjadi dua bagian.
Kemudian saya membandingkannya lagi dengan lagu Kasih Ibu, kasih ibu kepada beta..tak terhingga sepanjang masa…hanya memberi tak harap kembali …bagai sang surya menyinari dunia.
Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada saudara-saudara dari ranah Minang, saya mulai bertanya apakah ibu dalam cerita Malin Kundang itu adalah ibu kandung Malin Kundang. Kenapa sebagai ibu kandung beliau tega mengeluarkan sumpah atas anaknya sendiri, darah dagingnya sendiri, buah kasihnya yang sepanjang masa, kasih yang diberikannya tanpa harap kembali. Walau kemudian sang ibu menyesal dengan kata-katanya sendiri setelah melihat kenyataan apa yang diucapkannya menjadi kenyataan.
Dalam hidup rumah tangga, pasangan kita tentu tidak sehebat ibu atau ayah yang dengan tulus menyayangi. Namun oleh sang waktu cinta yang membara diawal menurut scenario harusnya dirubah menjadi kasih yang tak lekang oleh waktu. Dan bentuk kasih itu akan mendekati kadar kasih dari seorang ibu atau bapak. Sehingga semua bentuk interaksi antara keduanya adalah atas dasar kasih. Emosi yang sangat manusiawi muncul dalam perjalanannya tidak menyebabkan salah seorang di antara pasangan itu sampai hati mengeluarkan sumpah serapah demi kehancuran pasangannya. Apalagi diungkapkan dihadapan pasangannya.
Ibu Malin Kundang mengalami pengkhianatan oleh putranya sendiri. Namun karena satu dan lain hal sumpah serapah keluar dari mulut sang ibu. Kalau boleh saya sarankan jangan jadikan ini sebagai justifikasi Anda untuk melakukannya kepada pasangan Anda. Baik Anda Suami maupun Istri. Buat calon pasangan, Anda harus meyakinkan diri bahwa Anda tidak akan melakukannya kepada pasangan Anda sekalipun Anda mendapatkan perlakuan yang buruk. Jika hidup Anda terancam lebih baik Anda pergi ketimbang bertahan namun Anda menyumpahi untuk kehancuran pasangan Anda. Karena itu tandanya Anda sudah tidak memiliki kasih lagi kepada pasangan Anda dan menginginkan kehancuran pasangan Anda. Terlepas dari apa yang dilakukan pasangan Anda, seburuk apakah itu. Lebih baik Anda mendoakannya tanpa berusaha merubah. Serahkan kepada Tuhan dan terus limpahkan pasangan Anda dengan kasih. Jika tidak terjadi perubahan, Anda berhak untuk mengambil kendali atas hidup Anda dan melakukan evaluasi terhadap komitment, visi dan misi yang ditetapkan pada awal perjalanan bersama pasangan. Evaluasi tindakan-tindakan Anda, introspeksi itu lebih baik dari pada menyerang pasangan Anda terus menerus. Anda berhak untuk hidup lebih baik, Anda berhak untuk mengambil bagian dalam visi dan misi yang baru , menciptakan dunia yang baru.
Sabtu, 12 Maret 2011
Saya selingkuh...
"Saya selingkuh karena saya memilih untuk selingkuh, bukan karena pasangan saya yang jahat, tidak menyenangkan, kurang cocok, membosankan dstnya. Dan jika saya tidak selingkuh, itupun karena saya memilih untuk tidak selingkuh, bukan karena pasangan saya baik hatinya, support, mencintai dan menyayangi saya."
Ipung tersenyum sendiri melihat status fb seorang temannya. "Jujur juga ini orang xixixi...tapi mungkin dia bener" kata Ipung dalam hati. So, its about me, not about someone else. Itu juga salahnya manusia karena dilahirkan sebagai makluk sosial yang butuh bergaul dan dari pergaulan muncul sentuhan, daya tarik baik terhadap sesama jenis maupun lawan jenis. Yang sesama jenis akan menjadi sahabat, yang lawan jenis mungkin menjadi sahabat atau lebih dari sekedar sahabat. Lalu apa hubungannya dengan family sebagai sebuah incorporation ?
Jawabannya adalah komitment. Komitment untuk menjaga cita-cita keluarga menghasilkan output yang sudah di rencanakan. Setiap pasangan harus menyadari pilihan yang terjadi bukan karena pasangan masing-masing. Itu sebuah keputusan yang di ambil, namun keputusan itu tidak boleh mengganggu komitment. Lalu bagaimana dengan perasaan?
Sama seperti cinta yang hilang dan tumbuh sesuai dengan mood kita sebagai manusia. Semuanya akan datang dan pergi. Tetaplah berpegang pada komitment.
Ipung kembali tersenyum sambil membayangkan apa reaksi Mey jika ia share status sahabatnya kepada kekasihnya itu. Good luck yaaa, Pung.
Dan bagaimana reaksi Anda jika Ipung membaginya dengan Anda? :P
Ipung tersenyum sendiri melihat status fb seorang temannya. "Jujur juga ini orang xixixi...tapi mungkin dia bener" kata Ipung dalam hati. So, its about me, not about someone else. Itu juga salahnya manusia karena dilahirkan sebagai makluk sosial yang butuh bergaul dan dari pergaulan muncul sentuhan, daya tarik baik terhadap sesama jenis maupun lawan jenis. Yang sesama jenis akan menjadi sahabat, yang lawan jenis mungkin menjadi sahabat atau lebih dari sekedar sahabat. Lalu apa hubungannya dengan family sebagai sebuah incorporation ?
Jawabannya adalah komitment. Komitment untuk menjaga cita-cita keluarga menghasilkan output yang sudah di rencanakan. Setiap pasangan harus menyadari pilihan yang terjadi bukan karena pasangan masing-masing. Itu sebuah keputusan yang di ambil, namun keputusan itu tidak boleh mengganggu komitment. Lalu bagaimana dengan perasaan?
Sama seperti cinta yang hilang dan tumbuh sesuai dengan mood kita sebagai manusia. Semuanya akan datang dan pergi. Tetaplah berpegang pada komitment.
Ipung kembali tersenyum sambil membayangkan apa reaksi Mey jika ia share status sahabatnya kepada kekasihnya itu. Good luck yaaa, Pung.
Dan bagaimana reaksi Anda jika Ipung membaginya dengan Anda? :P
Kamis, 16 Desember 2010
Pasukan Garuda menaklukkan Tim Philipina 1-0 tadi malam
Deg-degan juga ya nonton pasukan Garuda main lawan tim Philipina. Tapi saya suka dengan suasana euphoria yang sampai terjadi di rumah-rumah keluarga Indonesia. Bayangkan saja, remote tv yang biasanya jadi rebutan dan bahan perselisihan keluarga setiap 'prime time', tadi malam seolah terjadi kesepakatan bersama, konsensus mulai dari sang Bapak, Ibu, Nenek, Kakek, Anak-anak hingga Asisten Rumah Tangga untuk tidak memindahkan saluran TV yang menayangkan pertandingan sepak bola antara Pasukan Garuda melawan tim Philipina tadi malam. WOW! Luar Biasa!
Pasukan Garuda memang luar biasa. Perjuangan yang berat baik dari sisi pemain, pelatih, manajemen team membuahkan hasil walaupun belum selesai. Ego ego yang dikantungi untuk satu tujuan bersama tidak bisa dipungkiri akan membuahkan kesuksesan. Keluarga Indonesia bisa mengambil banyak pelajaran dari proses yang melelahkan ini. Meningkatkan skill individual dengan membuka diri terhadap pengembangan pribadi maupun pasangan, pemimpin keluarga yang visioner memandang kedepan bukan masa lalu, anak-anak yang membiarkan pengarahan orang tua dan percaya semuanya itu demi kebaikan mereka, pengaturan finansial yang berorientasi investasi dan masa depan. Luar biasa.
Saya pribadi mengucapkan syukur atas melajunya Timnas Pasukan Garuda ke babak berikutnya hingga Final nanti karena banyak pelajaran yang di dapat dari event ini. Selamat kepada seluruh team sukses Pasukan Garuda. Hidup Indonesia! Hidup Keluarga Indonesia!
Sumber photo : www.tvbola.us
Langganan:
Postingan (Atom)
